Puisi-puisi Dino lahir karena adanya kegalauan yang sangat manusiawi (hati nurani?) dalam menyaksikan peristiwa-peristiwa yang terjadi atau dia alami sendiri, baik itu kejadian sosial/politik maupun yang terjadi atas diri pribadi. Kerangka yang dipakai dalam mempersepsi atau merenungi hal-hal itu bukanlah kerangka analisis intelektual, melainkan rasa kemanusiaan itu tadi. Ikranegara Budayawan/ Tinggal di Amerika ------------------------------ Dino, dalam puisinya, seakan seorang “malaikat” atau “dewa” atau “santo”, atau “orang bijak” atau “filsuf” (philo-sophia:cinta-kebijakan) tampil dalam deretan huruf yang berjejer pada dunia maya/cyber. Merenungkan konflik yang terjadi di kotanya: Ambon. Membuat kegamangan nyata dan tak nyata di dunia permainan internet, menjadi makin gamang, ada “kenyataan” di dalam puisi. Teruslah setia melahirkan puisi: tak harus dinamakan penyair. Entah dijuluk apa, kau pasti tak perduli... Sihar Ramses Simatupang Penyair/Novelis/ Wartawan Sinar Harapan ---------------------- Mungkin saja di kehidupan yang dulu, dia pernah hidup sebagai Aviros, Kahlil Gibran, Machiavelli, Mpu Prapanca, Hamzah Fanshuri, Chairil Anwar, dan sekarang terlahir menjadi Dino Umahuk Tuahta Arif Sastrawan Aceh Dino adalah simbol penyimpangan. Dia tidak tumbuh menjadi penyanyi atau petinju seperti kebanyakan pemuda Maluku. Justru, sebagai petualang yang nakal, dia lebih terpanggil menjadi penyair, sebuah ketidaklaziman. Proses kreatifnya melawan mainstream, sesungguhnya merupakan proses berat, sendiri, tanpa teladan, tanpa refererensi, tanpa panggung. Dan itu sungguh berani..................... Rudi Fofid Wartawan Harian Suara Maluku di Ambon............................ Aku suka sajak-sajak Dino pada umumunya karena diksi dan imajinya kuat. Meskipun bermain antara sajak "terang" dan "gelap", tetapi biarpun terang, Dino menjaga pilihan kata-katanya. Imaji-imaji tentang laut, pengembaraan bahari, warna itu memberi kekhasan. Kurasa Dino berhasil dalam keutuhan imaji-imajinya TS. Pinang Sastrawan tinggal di Yogyakarta....................... Pembicaraan tentang laut (dalam hal metafora, sebagai latar tempat, personifikasi, maupun esensi) sangat karib dalam puisi Dino. Boleh jadi ini menunjukkan kedekatan penyairnya dengan laut sebagai lingkungan yang membesarkan dan atau menjadi obsesinya. Kurnia Effendi Sastrawan tinggal di Jakarta…………… Dalam kegairahan seperti ‘birahi laut’ itu Dino tampak begitu lahap untuk menulis apa saja, yang sempat dijumpai dan menggoda imaji puitiknya sepanjang pengembaraannya, sepanjang petualangannya menaklukkan tantangan hidup yang keras, puncak gunung, dan perempuan akhirnya Dino menemukan yang dicarinya: jati diri yang religius dan pola pengucapan yang rapi, imajis dan simbolik, dengan citraan-citraan alam yang puitis. Ahmadun Yosi Herfanda Sastrawan dan Redaktur Harian Republika Jakarta…….. < >< > ![]()
| |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Terbatas Waktu Jika kesendirian adalah jalan ke arah pulang Maka kita harus bertarung merebut waktu Karena cahaya tak datang sendiri kecuali kau cari Pada tiap-tiap kerinduan ada airmata sebagai pertanda Aku atau engkau akan selalu seperti itu,... more
SAJAK LAUTAN ACEHsajak lautan acehPencipta: Dino Umahuk Voval: Zoel Passe Aransemen: Opay
|
![]() Izrail Mampir di Bumi Aceh.wmvsatu lagi proyek coba-cobasemog aberkenan
Bentuk Puisi, Peletakan PuisiMengapa Agama Melarangku Bunuh Diri(Dari Buku Puisi Dino F Umahuk) Bentuk Puisi, Peletakan Puisi Puisi bukanlah semata soal bentuk, suatu cara menyusun kata, di dalam puisi.. Tapi puisi adalah soal makna dari kata-kata yang ditimbulkan,... more
| ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||

![Ambon manise [dot] com' /](http://almascatie.files.wordpress.com/2007/08/banner_ambon.jpg)


Jika kesendirian adalah jalan ke arah pulang Maka kita harus bertarung merebut waktu Karena cahaya tak datang sendiri kecuali kau cari Pada tiap-tiap kerinduan ada airmata sebagai pertanda Aku atau engkau akan selalu seperti itu,... 


