Ku kibarkan celana dalam di jalan-jalan yang mereka lalui
Di sofa empuk jok depan mobil juga papan nama kantor
Jangan ingkari kami dibalik daster para istri
Bukankah semalam kita bergumul di ranjang yang sama
Sebelum buru-buru mandi kucing karena telepon genggammu berbunyi
Panggilan pulang dari istri Woe..ini dia kutang hitam perempuan yang kalian sebut lonte
Ini dia tubuh bugil yang kalian peluk di balik ketiak para bini
Ini dia lendir yang kalian selipkan di liang tanpa dosa
Jika malam tiba berton-ton kondom kalian sumpalkan ke selengkangan kami
Besok pagi-pagi bocah cilik pinggir kali meniupnya sebagai balon
Beterbanganlah dia ke jendela-jendela kantor
Ke ruang-ruang rapat ke langit-langit kebohongan
Mari sini kalian
Jangan pasang muka jijik jika ada para bini
Kami tak menuntut gaji sebulan tak butuh jalan-jalan
Hanya kita saling tahu seberapa tenaga tersisa dari perut yang membuncit
Ku kibarkan kutang hitam sebagai bendera merdeka
Bahwa republik ini tak hanya ada mimpi
Tapi juga desahan kami di setiap malam-malam panjang
Silahkan pak, masih ada setumpuk kondom
Bapak mau yang rasa apa
Banda Aceh, 09 Agustus 2007